Bangsa Indonesia adalah bangsa
yang kuat. Bangsa yang dilahirkan oleh nenek moyang yang pada masanya mampu
menguasasi dunia. Leluhur bangsa Indonesia bukan orang yang biasa-biasa saja,
ketika alat musik di penjuru dunia masih berbahan kulit, kayu, dll, leluhur
bangsa Indonesia telah mempunyai alat musik yang terbuat dari kuningan. Karya-karya
monumental telah ditorehkan oleh leluhur bangsa Indonesia, Candi Borobudur,
Candi Prambanan, dan peninggalan-peninggalan lainnya.
KONSULTASI ONLINE KLIK DI SINI
Sekuat apapun suatu bangsa, pasti mempunyai kelemahan, tidak terkecuali leluhur Bangsa Indonesia. Bangsa yang mempunyai semangat SUMPAH PALAPA itupun akhirnya beberapa kali terjatuh ke pangkuan penjajah. Portugis, Spanyol, Belanda, Perancis, Inggris, dan Jepang tercatat pernah berusaha menguasai bangsa besar Nusantara ini.
Pepatah mengatakan “Buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya”, begitulah kira-kira Bangsa Indonesia yang mewarisi sifat dan sikap dari leluhurnya. Meskipun bangsa Indonesia beberapa kali dijajah oleh bangsa lain, namun penjajah tersebut satu persatu dapat dikalahkan dan diusir dari bumi pertiwi bangsa Indonesia/Nusantara. Jepang tercatat sebagai bangsa yang terakhir kali menjajah bangsa Indonesia sebelum akhirnya dengan penuh perjuangan, bangsa Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945.
Moment Hari Kemerdekaan Indonesia adalah awal dari perjuangan mempertahankan Kemerdekaan Indonesia. Perjuangan demi perjuangan dilakukan agar Negara Indonesia yang baru saja diprokalimirkan itu terus tegak berdiri. Mulai dari perjuangan diplomatik, regulatik, serta perjuangan fisik.
Akhir September 1945 dengan penuh keyakinan, Inggris datang kembali ke Indonesia dengan mengatasnamakan diri sebagai NICA (Netherlands Indies Civil Administration). Pada pertengahan bulan Oktober 1945, Jepang merebut kembali beberapa kota Jawa yang telah jatuh ke tangan bangsa Indonesia untuk diserahkan kepada Inggris. Sekutu berusaha terus masuk dan menguasai Negara yang baru sumur jagung tersebut.
Keadaan Negara yang genting
mendorong para kiyai untuk memobilisasi masa agar siap berjihad kapan saja
dibutuhkan. Presiden Soekarno dan tokoh-tokoh Nasional datang menemui Hadhratus
Syaikh Hasyim Asy’ari untuk meminta fatwa tentang mempertahankan kemerdekaan
bagi umat Islam. Pada tanggal 21-22 Oktober 1945 para kiyai dari Jawa dan
Madura berkumpul di Surabaya. Perkumpulan para Kiyai tersebut memutuskan bahwa
perjuangan mempertahankan kemerdekaan adalah jihad. Dari pertemuan para kiyai
itulah lahir sebuah resolusi, pematik semangat kaum santri, pemuda, dan bangsa
Indonesia untuk keluar secara masif menghadapi sekutu. Resolusi tersebut
dikenal dengan RESOLUSI JIHAD.
Adapun bunyi resolusi jihad yang difatwakan oleh K.H. Hasyim Asy`ari sebagaimana dikutip oleh Rifa`i (2009: 74) adalah sebagai berikut:
1. Kemerdekaan Indonesia yang relah diproklamirkan pada 17 Agustus 1945 harus dipertahankan.
2. Pemerintah RI sebagai satu-satunya pemerintahan yang sah harus dipertahankan dengan harta maupun jiwa.
3. Musuh-musuh Indonesia, khususnya orang-orang Belanda yang kembali ke Indonesia dengan menumpang pasukan Sekutu (Inggris), sangat mungkin ingin menjajah kembali bangsa Indonesia setelah Jepang ditaklukkan.
4. Umat Islam, khususnya warga NU, harus siap bertempur melawan Belanda dan sekutu mereka yang berusaha untuk menguasai Indonesia kembali.
5. Kewajiban jihad merupakan keharusan bagi setiap Muslim yang tinggal dalam radius 94 kilometer (sama jaraknya dengan qashar, di mana meringkas shalat boleh ditunaikan oleh Muslim santri).
6. Mereka yang berada di luar radius itu mempunyai tanggung jawab mendukung saudara-saudara Muslim mereka yang tengah berjuang dalam radius tersebut.
Pertempuran, atau meminjam bahasa K. Sunyoto (Penulis Atlas Walisongo) adalah tawuran tersebut berlangsung terus-menerus sehingga sampailah pada tanggal 10 November yang kemudian diperingati sebagai hari Pahlawan.
SELAMAT HARI SANTRI NASIONAL 2022


0 Comments